Proses kontrak pemerintah selama ini terhambat oleh prosedur manual, teknologi yang usang, dan sistem yang tidak terhubung. Namun, seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), teknologi ini berpotensi merevolusi bidang ini dengan meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, dan memberikan transparansi yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam Q&A ini, Steve Wright, Kepala Saluran dan Aliansi Sektor Publik di DocuSign, membahas bagaimana AI dan otomatisasi dapat mengubah manajemen kontrak pemerintah, berdasarkan pengalamannya yang luas di General Services Administration (GSA). Bisakah Anda berbagi sedikit tentang latar belakang Anda dan peran Anda di GSA? Steve Wright bekerja selama lebih dari 11 tahun di GSA, menangani berbagai tugas pengadaan dan kepatuhan di berbagai jenis kontrak. Kontrak-kontrak tersebut meliputi pengadaan sederhana hingga pengadaan yang lebih besar dan kompleks berdasarkan Federal Acquisition Regulation (FAR) Bagian 15. Pada tahun terakhirnya di GSA, dia menjabat sebagai pemilik produk untuk Acquisition Gateway, sebuah alat yang membantu pembeli federal mengakses sumber daya seperti template dan riset pasar untuk memastikan kepatuhan dengan FAR. Bagaimana teknologi diterapkan dalam pekerjaan Anda sehari-hari di GSA? Selama di GSA, Wright menemukan bahwa sistem penulisan kontrak dan kepatuhan terfragmentasi dan tidak konsisten antar instansi. Alat dan proses yang digunakan berbeda-beda, dengan dokumen sering kali disimpan di berbagai sistem atau format. Wright melihat adanya peluang besar untuk menyederhanakan dan menghubungkan sistem-sistem ini untuk meningkatkan efisiensi pengadaan dan pengalaman pengguna. Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dengan sistem manajemen kontrak dan alat yang ada? Tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketergantungan pada teknologi yang usang dan tidak terhubung. Pengadaan pemerintah mengikuti aturan yang ketat, tetapi ketika sistem tidak terhubung, prosesnya menjadi lebih lambat dan manual. Misalnya, Procurement Administrative Lead Time (PALT) seringkali tertunda karena pengiriman PDF untuk persetujuan secara manual, yang juga mengurangi visibilitas status kontrak. Wright menekankan pentingnya sistem yang lebih baik untuk meningkatkan visibilitas, mengurangi risiko, dan membangun kepercayaan dalam proses pengadaan. Bagaimana proses manual dan sistem warisan mempengaruhi efisiensi? Wright menekankan bahwa ketidakefisienan adalah tantangan utama dalam kontrak pemerintah—bukan karena orang-orang tidak bekerja keras, tetapi karena sistem dan proses belum mengikuti kompleksitas misi pemerintah. Banyak tugas tersebar di berbagai platform, memerlukan login dan alur kerja yang berbeda. Ini menciptakan gesekan dalam proses yang sebenarnya diperlukan. Jika alat bisa terintegrasi, mengisi otomatis, atau membimbing pengguna, itu akan membebaskan petugas kontrak untuk fokus pada aspek strategis pengadaan, bukan tugas administratif. Apa pendapat Anda tentang pembicaraan seputar AI dalam kontrak pemerintah? AI menawarkan potensi besar dalam pengadaan pemerintah dengan menargetkan proses manual yang memakan waktu. Wright menunjukkan bahwa AI dapat membantu dalam pembuatan permintaan penawaran dengan menentukan dokumen yang diperlukan berdasarkan jenis dan ukuran pengadaan. AI juga dapat menandai klausul yang tidak relevan, menyederhanakan kepatuhan setelah pengadaan, dan membantu instansi serta vendor melacak elemen penting tanpa harus menyisir setiap dokumen. Apa saja kesalahpahaman tentang AI dalam manajemen kontrak pemerintah? Wright mencatat bahwa kesalahpahaman umum adalah bahwa AI akan menggantikan keterlibatan manusia dalam proses kontrak. Namun, AI dimaksudkan untuk mendukung pekerjaan para profesional kontrak, bukan menggantikan mereka. AI dapat menangani tugas-tugas repetitif seperti entri data dan pengiriman formulir, yang mengurangi kesalahan dan mendukung pengambilan keputusan strategis oleh petugas kontrak. Apa yang paling Anda nantikan tentang masa depan AI dalam manajemen kontrak pemerintah? Wright merasa sangat antusias dengan kemampuan AI untuk membawa efisiensi dan visibilitas ke area-area yang selama ini kurang diperhatikan dalam proses kontrak. Misalnya, AI dapat sangat meningkatkan transparansi dalam mengelola permintaan Informasi di bawah Kebebasan Informasi (FOIA) dengan membuat dokumen mudah dicari dan dilacak. AI juga meningkatkan kepatuhan, membantu instansi mengelola rencana subkontrak bisnis kecil dan kewajiban lainnya dengan lebih akurat. Bagaimana solusi berbasis AI membantu mengatasi tantangan-tantangan ini? Wright menjelaskan bagaimana platform Intelligent Agreement Management (IAM) dari DocuSign dirancang untuk mengatasi masalah-masalah ini. Platform ini membantu mengorganisir, melacak, dan menghadirkan wawasan dari perjanjian dengan menggunakan AI untuk membandingkan kontrak dan mengidentifikasi klausul kunci. Ini juga menawarkan repositori terpusat, Docusign Navigator, yang melacak pembaruan, metrik kepatuhan, dan rencana subkontrak. Automatisasi ini mempermudah merespons permintaan dan audit, memastikan proses yang lebih efisien dan transparan. Bagaimana otomatisasi mendukung kepatuhan, auditabilitas, dan mitigasi risiko? Dalam kontrak pemerintah, kepatuhan dan auditabilitas sangat penting. Wright menjelaskan bahwa otomatisasi meningkatkan area ini dengan menyematkan kepatuhan langsung ke dalam alur kerja. Ini memastikan setiap persetujuan dan tinjauan tercatat dengan benar dan dapat dilacak, menciptakan jejak audit yang lengkap. Platform IAM dari DocuSign menggunakan otomatisasi untuk mengarahkan perjanjian ke pihak yang tepat dan menangkap setiap tindakan dalam jejak audit yang aman dan tidak dapat dirubah. Ini mengurangi kesalahan dan meminimalkan risiko, sekaligus membuat proses lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Apa saran yang akan Anda berikan kepada instansi pemerintah yang ingin memodernisasi proses kontrak mereka? Wright menyarankan untuk memulai dengan dasar-dasar—memastikan kontrak disimpan dalam sistem yang terpusat dan mudah dicari dengan akses yang terkendali. Instansi juga harus meninjau proses pengiriman dan persetujuan mereka, mengidentifikasi area di mana otomatisasi dan AI dapat membantu menyederhanakan tugas. Terakhir, dia menekankan pentingnya mitigasi risiko, dengan AI membantu membimbing pengguna melalui alur kerja yang mematuhi peraturan dan menandai area yang memerlukan perhatian. Kesimpulan AI dan otomatisasi sedang merombak lanskap manajemen kontrak pemerintah, menawarkan alat baru untuk meningkatkan efisiensi, kepatuhan, dan transparansi. Dengan memanfaatkan kemampuan AI, instansi pemerintah dapat mengatasi tantangan dari sistem yang usang, mengurangi beban administratif, dan lebih fokus pada pengambilan keputusan strategis. Seiring perkembangan teknologi seperti IAM dari DocuSign, masa depan kontrak pemerintah menjanjikan proses yang lebih cerdas dan lebih efisien dari sebelumnya. Jika anda tertarik dengan DocuSign Indonesia bisa menghubungi PT. iLogo Infralogy Indonesia untuk untuk mendapatkan penjelasan lebih detail mengenai produk, fitur, dan manfaat yang dapat Anda manfaatkan.
- (021) 53660861
- docu@ilogoindonesia.id
- AKR Tower – 9th Floor Jl. Panjang no. 5