Seni bersepakat bukan hanya tentang mengatakan “ya”—tetapi juga tentang seni berbeda pendapat. Mengetahui bagaimana mengelola perbedaan pendapat bisa menjadi pembeda antara hubungan yang sehat dan hubungan yang beracun. Ambil contoh sederhana: Saya bilang kucing lebih baik, Anda bilang anjing lebih baik. Tidak ada yang benar atau salah, namun kita sama-sama memiliki pendapat yang kuat. Meskipun ini contoh yang ringan, bagaimana jika keputusan besar yang diambil? Mungkin dua tim di kantor mengusulkan dua pendekatan yang sangat berbeda untuk menyelesaikan masalah. Bos akan memilih salah satunya, tetapi tim-tim tersebut harus bekerja sama setelahnya. Bagaimana Anda mengelola situasi itu? Anda mungkin tidak langsung memikirkan komedi sebagai solusi, tetapi para ahli improvisasi di The Second City di Chicago percaya bahwa itulah kuncinya. Teater yang didirikan pada tahun 1959 ini telah mengembangkan frasa tiga kata yang sangat berguna untuk membantu orang mengelola percakapan yang sulit: “Terima kasih, karena.” Ilmuwan perilaku di University of Chicago Booth School of Business telah menguji frasa ini dengan ribuan orang, dan mereka membuktikan, dengan data, bahwa frasa ini bekerja dengan baik dalam praktiknya. Kelly Leonard, wakil presiden Creative Strategy, Innovation, dan Business Development di The Second City, menjelaskan bagaimana konsep ini bekerja. Kekuatan “Yes, and” The Second City lebih dikenal dengan frasa lain: “Yes, and.” Ini adalah teknik improvisasi yang mendorong penerimaan dan kolaborasi. Prinsip dasar di baliknya sederhana: alih-alih menolak apa yang dikatakan orang lain, Anda menerima dan mengembangkannya. Jika Anda membantah atau mengatakan “tidak,” Anda akan mematikan adegan. Tetapi ketika Anda mengatakan “ya” dan membangun ide tersebut, percakapan berkembang secara alami. Prinsip ini sama efektifnya dalam kehidupan nyata seperti di atas panggung. Pada tahun 2015, Leonard menerbitkan buku terlaris berjudul Yes, And: How Improvisation Reverses “No, But” Thinking and Improves Creativity and Collaboration. The Second City juga melatih pemimpin bisnis melalui divisi mereka, Second City Works, mengajarkan karyawan bagaimana menerapkan “Yes, and” untuk naik ke tangga perusahaan. Memperkenalkan “Terima Kasih, Karena” Meskipun “Yes, and” bekerja dengan baik ketika sepakat, tantangan sebenarnya muncul ketika ada perbedaan pendapat. Leonard dan rekannya di The Second City menyadari bahwa dalam banyak pengaturan profesional, orang sering kali membutuhkan cara untuk tetap terlibat dalam percakapan meskipun mereka tidak setuju. Lalu muncul frasa “Terima kasih, karena.” Frasa ini memberikan struktur untuk menangani perbedaan pendapat dengan hormat sambil menjaga percakapan tetap terbuka. Caranya adalah dengan pertama-tama mengungkapkan rasa terima kasih (“Terima kasih”) untuk perspektif orang lain, diikuti dengan alasan (“karena”), dan kemudian menyampaikan pandangan berlawanan Anda. Kunci dari pendekatan ini adalah urutan: mengungkapkan rasa terima kasih terlebih dahulu dan mengakui pandangan orang lain sebelum menyampaikan pendapat Anda. Pendekatan ini mendorong saling menghargai dan pengakuan, alih-alih langsung berusaha meyakinkan seseorang bahwa mereka salah dan Anda yang benar. Mengapa “Terima Kasih, Karena” Bekerja Biasanya, ketika orang berbeda pendapat, mereka akan menggunakan “Tidak, karena”—misalnya, Anda bilang, “anjing lebih baik daripada kucing,” dan respons saya langsung membantah dan mencoba membongkar argumen Anda. Kita semua tahu bagaimana itu biasanya berakhir. Ilmuwan perilaku di Booth menguji “Tidak, karena” versus “Terima kasih, karena” dalam eksperimen percakapan. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang menggunakan “Terima kasih, karena” lebih mungkin untuk tetap terlibat dalam percakapan dan merasa percakapan tersebut lebih baik. Kuncinya adalah bahwa mengungkapkan rasa terima kasih memicu respons emosional positif, yang membantu kedua pihak merasa didengar dan dipahami. “Ketika Anda mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut atas apa yang baru saja mereka katakan, Anda sedang mengaktifkan bagian otak yang terkait dengan rasa terima kasih,” jelas Leonard. Aplikasi di Dunia Nyata “Terima kasih, karena” telah menjadi elemen inti dalam pelatihan yang diberikan oleh Second City Works kepada klien perusahaan. Leonard baru-baru ini menggunakan teknik ini dalam workshop tiga hari dengan perusahaan yang baru saja menggabungkan dua divisi. Tujuannya adalah untuk mendorong kolaborasi dan komunikasi, yang merupakan tantangan besar setelah penggabungan dalam banyak perusahaan besar. Seperti yang dijelaskan Leonard, “Bisnis hanyalah sekumpulan orang yang berkumpul untuk mencoba melakukan sesuatu.” Dengan menerapkan wawasan dari ilmu saraf, psikologi, dan bidang lainnya, perusahaan dapat meningkatkan dinamika interpersonal mereka. Singkatnya, dengan menerapkan teknik seperti “Terima kasih, karena,” bisnis dan individu dapat menciptakan interaksi yang lebih positif dan produktif, bahkan saat ada perbedaan pendapat. Pendekatan ini membantu menjembatani kesenjangan, mendorong pemahaman, dan menjaga percakapan tetap berjalan. Sudahkah Anda mempertimbangkan DocuSign sebagai solusi untuk manajemen tanda tangan elektronik dan otomatisasi perjanjian digital Anda? Dengan DocuSign, Anda dapat menghemat waktu, mengurangi penggunaan kertas, dan meningkatkan efisiensi dalam proses perjanjian serta pengelolaan dokumen bisnis Anda. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan docusign, Anda bisa mendapatkan solusi IT lengkap yang sesuai dengan kebutuhan Anda. iLogo Indonesia sebagai mitra terpercaya siap mengintegrasikan semuanya agar bisnis Anda tetap berjalan lancar dan aman. Hubungi kami sekarang atau kunjungi docusign.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
- (021) 53660861
- docu@ilogoindonesia.id
- AKR Tower – 9th Floor Jl. Panjang no. 5