Selama beberapa tahun terakhir, hampir semua perusahaan berlomba-lomba mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Mulai dari chatbot, asisten virtual, analisis data otomatis, hingga generative AI untuk membuat konten, teknologi ini dianggap sebagai kunci transformasi bisnis masa depan. Namun, satu pertanyaan masih sering muncul di ruang rapat para eksekutif: apakah investasi AI benar-benar menghasilkan keuntungan yang nyata?
Laporan terbaru hasil kolaborasi Docusign dan Deloitte memberikan jawaban yang cukup menarik. Penelitian yang melibatkan lebih dari 1.100 pemimpin bisnis di enam negara tersebut menemukan bahwa perusahaan yang menggabungkan AI dengan otomatisasi workflow perjanjian dan kontrak mampu memperoleh hasil bisnis yang jauh lebih baik dibandingkan organisasi yang menggunakan AI secara terpisah-pisah. Bahkan, perusahaan yang menerapkan workflow berbasis AI secara menyeluruh melaporkan ROI hampir 30% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum mengadopsi pendekatan serupa.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan AI bukan hanya tentang memiliki teknologi paling canggih, tetapi tentang bagaimana teknologi tersebut diintegrasikan ke dalam proses bisnis yang menghasilkan nilai nyata.
AI Ada di Mana-Mana, Tetapi Hasilnya Tidak Sama
Saat ini hampir semua organisasi memiliki akses ke berbagai alat AI. Namun, tidak semua perusahaan merasakan manfaat yang sama. Banyak implementasi AI masih bersifat parsial dan berdiri sendiri.
Misalnya, tim pemasaran menggunakan AI untuk membuat konten, tim layanan pelanggan menggunakan chatbot, sementara tim hukum dan operasional masih bekerja dengan proses manual yang tidak saling terhubung. Akibatnya, manfaat yang diperoleh sering kali terbatas dan sulit diukur secara menyeluruh.
Laporan Deloitte menemukan adanya kesenjangan yang semakin besar antara perusahaan yang menggunakan berbagai alat AI terpisah dengan organisasi yang membangun platform AI terintegrasi dalam alur kerja bisnis mereka. Perusahaan yang menerapkan solusi end-to-end mampu memperoleh manfaat yang jauh lebih konsisten dan berkelanjutan.
Kontrak Adalah Aset yang Sering Terabaikan
Setiap bisnis bergantung pada kontrak dan perjanjian. Mulai dari kontrak pelanggan, vendor, mitra bisnis, hingga dokumen legal internal, semuanya menjadi fondasi operasional perusahaan.
Namun dalam praktiknya, kontrak sering kali hanya dianggap sebagai dokumen administratif yang disimpan setelah ditandatangani. Informasi penting yang terkandung di dalamnya jarang dimanfaatkan secara maksimal.
Docusign melihat kondisi ini sebagai peluang besar. Dengan bantuan AI, kontrak dapat diubah dari sekadar dokumen statis menjadi sumber data bisnis yang dapat dianalisis, dicari, dan digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan. AI mampu membantu mengekstrak informasi penting, mengidentifikasi risiko, mempercepat proses persetujuan, hingga memberikan wawasan strategis dari ribuan dokumen yang sebelumnya sulit dikelola.
Hasil yang Bisa Diukur
Salah satu alasan mengapa laporan ini menarik adalah karena fokusnya pada hasil yang terukur, bukan sekadar janji teknologi.
Organisasi yang telah mengintegrasikan AI dalam pengelolaan perjanjian bisnis melaporkan:
- Penghematan biaya rata-rata sebesar 29%.
- Penghematan waktu kerja tim hukum sebesar 37%.
- Penurunan keterlambatan transaksi yang berkaitan dengan kontrak sebesar 29%.
- Peningkatan akurasi dan kepatuhan dokumen pada sebagian besar organisasi yang disurvei.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap produktivitas dan profitabilitas perusahaan.
Munculnya Era Agentic AI
Perkembangan AI saat ini tidak lagi berhenti pada otomatisasi sederhana. Dunia bisnis mulai memasuki era agentic AI, yaitu sistem yang tidak hanya memberikan rekomendasi tetapi juga mampu menjalankan tindakan tertentu berdasarkan konteks dan aturan yang telah ditetapkan.
Dalam ekosistem Docusign, agen AI mulai dikembangkan untuk membantu proses triase dokumen, meninjau kontrak, menjawab pertanyaan, mengidentifikasi hambatan persetujuan, hingga menggerakkan workflow secara otomatis. Pendekatan ini memungkinkan tim legal dan bisnis mengurangi pekerjaan administratif yang repetitif dan lebih fokus pada aktivitas strategis.
Bagi perusahaan yang mengelola ribuan kontrak setiap tahun, otomatisasi semacam ini dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap kecepatan operasional.
AI Tetap Membutuhkan Pengawasan Manusia
Meskipun potensinya besar, penggunaan AI dalam dokumen hukum tetap menimbulkan sejumlah pertanyaan. Beberapa profesional hukum dan pengguna teknologi mengingatkan bahwa ringkasan atau analisis yang dihasilkan AI tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan.
Dalam berbagai diskusi komunitas teknologi, sebagian pengguna menilai bahwa AI sangat membantu memahami dokumen yang kompleks, tetapi tetap berisiko melakukan interpretasi yang kurang tepat terhadap bahasa hukum tertentu. Karena itu, peran manusia tetap diperlukan sebagai lapisan verifikasi terakhir.
Pendekatan yang paling efektif bukan menggantikan manusia dengan AI, melainkan menggabungkan kecepatan AI dengan penilaian profesional manusia.
Peluang Besar untuk Perusahaan Indonesia
Banyak perusahaan di Indonesia masih berada pada tahap awal transformasi digital. Fokus implementasi AI sering kali masih terbatas pada chatbot atau pembuatan konten.
Padahal, laporan Deloitte menunjukkan bahwa potensi terbesar justru muncul ketika AI diterapkan pada workflow inti bisnis. Pengelolaan kontrak, proses pengadaan, persetujuan dokumen, dan administrasi legal merupakan area yang sangat cocok untuk memperoleh manfaat langsung dari otomatisasi berbasis AI.
Perusahaan yang mampu mengurangi hambatan administratif akan memiliki keunggulan kompetitif dalam hal kecepatan layanan, efisiensi biaya, dan kualitas pengambilan keputusan.
Kesimpulan
Era AI telah bergerak melampaui fase eksperimen. Kini fokus utama bukan lagi pada seberapa banyak alat AI yang digunakan, melainkan seberapa efektif teknologi tersebut terintegrasi ke dalam proses bisnis sehari-hari.
Studi Deloitte dan Docusign menunjukkan bahwa organisasi yang menggabungkan AI dengan workflow perjanjian yang terotomatisasi mampu mencapai ROI hampir 30% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang masih menggunakan pendekatan terfragmentasi. Selain itu, mereka juga menikmati penghematan biaya, peningkatan produktivitas, dan proses bisnis yang lebih cepat.
Bagi para pemimpin bisnis, pesannya cukup jelas: jangan mengadopsi AI hanya karena tren. Terapkan AI pada proses yang benar-benar memengaruhi kinerja perusahaan. Ketika teknologi dan workflow berjalan selaras, AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan mesin pertumbuhan yang mampu menciptakan nilai bisnis nyata.
DocusignIndonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia yang hadir sebagai mitra terpercaya dalam menyediakan solusi desain grafis profesional untuk mendukung kebutuhan bisnis, kreatif, pendidikan, hingga industri percetakan di Indonesia.
